PASANG SURUT BIDUK PAK CUM
Kami bukan pembina candi
Kami hanya pengangkut batu
Kamilah angkatan yang mesti musnah
Agar menjelma angkatan baru
Di atas kuburan kami lebih sempurna
Puisi di atas ditemukan di kantung baju jasad Letnan Satu Soebianto Djojohadikusumo, yang tewas dalam pertempuran di daerah Serpong, Tangerang. Lettu Soebianto gugur bersama adiknya, Taruna Soejono Djojohadikusumo, dalam kontak senjata melawan tentara Jepang, yang kemudian hari dikenal sebagai “Peristiwa Lengkong”, 25 Januari 1946.
Puisi itu seperti telah meramalkan nasib yang bakal ditanggung keponakan Letnan Soebianto, yaitu Letjen TNI (Purn) Prabowo Subianto Djojohadikusumo. Karena sebagai prajurit, Prabowo “hanya pengangkut batu”, atawa sekadar menjalankan perintah. Untuk selanjutnya Prabowo menjadi “angkatan yang mesti musnah”.
Dengan membaca puisi itu, seolah-olah ada hubungan batin antara paman dan keponakan, meski antara keduanya tidak pernah saling bertemu (Prabowo lahir 1951). Secara kebetulan, pilihan hidup mereka pun sama, yakni sebagai infanteris. Nama keduanya juga mirip, sama-sama ada unsur “Subianto”-nya.
Gugurnya dua orang adiknya dalam waktu bersamaan, dari kasus yang menimpa Prabowo, hanyalah sebagian dari badai kehidupan yang pernah menerpa Sumitro Djojohadikusumo. Pak Cum—begitu Sumitro acap dipanggil—sangatlah terpukul ketika mendengar kabar atas gugurnya kedua adiknya sekaligus. Karena sudah bertahun-tahun mereka tidak saling jumpa.
Dalam budaya Jawa, Banyumas merupakan sub-kultur tersendiri. Selain dialek bahasa yang berbeda, dan segi perilaku juga berbeda, dibanding kultur Jawa “pusat” Mataram (Yogya dan Solo). Perilaku Banyumasan dianggap lebih terbuka.
Pertemuan terakhir Pak Cum dengan kedua adiknya terjadi tahun 1942, menjelang Jaman Jepang, di Paris, saat Pak Cum sedang menyelesaikan studinya di Universitas Sorbonne. Pada sebuah liburan, kedua adiknya berkesempatan menjenguknya. Ketika kedua adiknya akan kembali ke Amsterdam dengan menumpang kereta api, Pak Cum mengantarkan hingga ke Stasiun Metro Paris. Sungguh tak ada yang menduga, kalau perpisahan di stasiun kereta api Paris itu adalah pertemuan mereka yang terakhir.
Sebagai kenangan terhadap kedua adiknya, kelak Pak Cum menterakan nama keduanya pada anak-anak lelakinya. “Subianto” untuk Prabowo, dan “Sujono” untuk adik Prabowo, yaitu Hashim (lengkapnya Hashim Sujono Djojohadikusumo). Hashim lebih dikenal sebagai pengusaha yang sukses, lewat holding Tirta Mas Group.
Tradisi Banyumas
Sebagai orang kosmopolitan, karena sebagian besar hidupnya dihabiskannya di luar negeri, ternyata Pak Cum tetap bangga sebagai orang Banyumas. “Saya ini orang Banyumas, kalau ngomong blakblakan,” demikian Pak Cum pada suatu kali.
Dalam budaya Jawa, Banyumas merupakan sub-kultur tersendiri. Selain dialek bahasa yang berbeda, dan segi perilaku juga berbeda, dibanding kultur Jawa “pusat” Mataram (Yogya dan Solo). Perilaku Banyumasan dianggap lebih terbuka. Dari wilayah dengan kultur seperti itulah Pak Cum berasal. Pak Cum lahir di Kebumen, 28 Mei 1917.
Sikap keterusterangan khas Banyumasan Pak Cum, diperlihatkannya ketika negeri ini mulai dilanda krisis berkepanjangan, sejak pertengahan tahun lalu. Menurut Pak Cum, kalau hanya krisis moneter, obatnya cukup aspirin. “Padahal yang diperlukan sekarang ‘obat antibiotik’ untuk menyembuhkan penyakit kronis yang terjadi di luar sektor ekonomi, seperti penyakit dalam bidang ketatanegaraan, hukum, birokrasi, dan sebagainya.” (Kompas, 11 Januari 1998).
Pak Cum adalah presentasi unsur PSI yang masuk kabinet, di tengah dominasi Masyumi dan PNI.
Pendapat Pak Cum tersebut tergolong keras. Karena semua orang tahu, walau bagaimanapun Pak Cum adalah bagian dari kekuasaan, melalui hubungan besannya dengan Presiden Soeharto. Sementara salah seorang anaknya, Prabowo, masuk dalam struktur kekuasaan (saat itu), selaku komandan pasukan elite. Kopassus.
Sikap keras yang sama, juga ditunjukkan Pak Cum di era Presiden Soekarno. Karena merasa tidak sepaham lagi dengan kebijakan politik Soekarno, yang menurut pandangan Pak Cum terlalu memberi angin pada PKI. Pak Cum memilih menyingkir dari Jakarta, untuk bergabung dengan gerakan PRRI/Permesta, di pedalaman Sumbar dan Sulut.
Padahal kalau Pak Cum mau sedikit “kompromi”. Kursi empuk di kabinet selalu tersedia untuknya. Sebagai satu-satunya doktor ekonomi kala itu, nama Pak Cum selalu masuk nominasi. Pak Cum adalah presentasi unsur PSI yang masuk kabinet, di tengah dominasi Masyumi dan PNI.
Sebagai orang Banyumas, di benak Pak Cum selalu ada tempat bagi segala sesuatu yang berbau Banyumas. Sampai sekarang pun, jika Pak Cum akan menulis sebuah buku atau karya lainnya, yang memerlukan konsentrasi tinggi, Pak Cum lebih senang mengerjakannya di Kebumen, ketimbang di rumahnya yang asri di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Tak tanggung-tanggung, sikap politik Pak Cum menentang Soekarno, mendapat dukungan penuh dari ayahnya, R.M. Margono Djojohadikusumo, yang dikenal sebagai pendiri Bank BNI 1946. Demi membela anaknya, R.M. Margono rela meninggalkan jabatan di pemerintahan, selaku ketua DPA.
Sebagai orang Banyumas, di benak Pak Cum selalu ada tempat bagi segala sesuatu yang berbau Banyumas. Sampai sekarang pun, jika Pak Cum akan menulis sebuah buku atau karya lainnya, yang memerlukan konsentrasi tinggi, Pak Cum lebih senang mengerjakannya di Kebumen, ketimbang di rumahnya yang asri di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Selain itu Pak Cum masih tercatat sebagai sesepuh Paguyuban Seruling Mas (Seruan Eling Banyumas), organisasi kekerabatan warga asal Banyumas di Jakarta.
Ciri menonjol lain dari kultur Banyumas adalah tradisi kemiliterannya yang kental. Sejak lama, kawasan Banyumas (ditambah Kedu dan Bagelen), merupakan sumber rekrutmen terpenting bagi calon personel KNIL. Terlebih pusat pendidikan calon bintara KNIL terletak di Gombong, Kabupaten Kebumen. Salah seorang alumninya adalah Soeharto, kelak menjadi besan Pak Cum. Maka jika kedua adik Pak Cum dan salah seorang anaknya, menempuh jalan hidup sebagai tentara, ada alasan logisnya.
Begawan Ekonomi
Perjalanan hidup Pak Cum merupakan kombinasi antara karir ilmuwan dan partisipasi dalam pemerintahan. Meski sejak lama Pak Cum tidak memiliki jabatan resmi dalam pemerintahan, namun pemikiran dan pendapat Pak Cum selalu menjadi rujukan banyak pihak, termasuk kalangan pemerintah.
Di masa Orde Baru, sekembalinya dari masa “pengasingannya” (1958-1968), Pak Cum sempat dua kali dipercaya sebagai menteri. Sebagai Menteri Perdagangan pada Kabinet Pembangunan I (1968-1973), dan Menteri Negara Riset (1973-1978). Setelah lengser dari pemerintahan, Pak Cum lebih dikenal sebagai pengamat ekonomi politik yang tajam, dan aktif pada lembaga konsultan yang didirikannya dulu, Indoconsult.
Justru dalam status sebagai ilmuwan inilah posisi Pak Cum tak pernah surut. Posisinya yang sangat dihormati sebagai ilmuwan, terutama dalam disiplin ekonomi, terlihat dari julukan yang diberikan kepadanya: Begawan Ekonomi.
Bisa jadi satu-satunya orang Indonesia, yang secara esensial pernah melontarkan kritikan terhadap pemikiran Pak Cum, adalah Semaun.
Di satu sisi, julukan itu merupakan penghormatan. Namun, di sisi lain, kurang kondusif bagi wacana ilmu-ilmu sosial, dan ini yang kurang disadari. Karena segala pendapat Pak Cum dianggap sebagai keniscayaan. Itu terlihat dari tiadanya sanggahan dari ekonom-ekonom Indonesia terhadap gagasan Pak Cum. Keengganan untuk berpolemik dengan Pak Cum, juga melanda ekonom-ekonom senior semacam Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, dan Emil Salim. Mungkinkah keengganan mereka berargumen dengan Pak Cum karena ada rasa utang budi terhadap “Sang Guru”?
Bisa jadi satu-satunya orang Indonesia, yang secara esensial pernah melontarkan kritikan terhadap pemikiran Pak Cum, adalah Semaun. Ketika dipromosikan sebagai Doctor Honoris Causa dalam bidang ekonomi, dari Universitas Padjadjaran, 31 Juli 1961, Semaun menyampaikan pidato pengukuhan yang berjudul “Tenaga Manusia Sebagai Postulat Teori Ilmu Ekonomi Terpimpin”.
Inti dari pidato Semaun itu merupakan kritik langsung terhadap pemikiran Sumitro, dalam bukunya Ekonomi Pembangunan (terbit 1955). Sayang ketika Semaun menus kritikannya itu, Pak Cum masih dalam masa “pengasingan” di luar negeri. Jadi Pak Cum tidak bisa merespons balik kritikan Semaun.
Setelah Orde Baru kehidupan Pak Cum tak pernah surut. Hari-hari ini cobaan pada keluarga Pak Cum, seperti datang beruntun. Sebelum kasus Prabowo mencuat, Pak Cum sudah harus menghadapi kenyataan pahit, ketika salah seorang menantunya, J. Sudrajad Djiwandono secara mendadak dicopot dari jabatannya selaku Gubernur BI. Kini ditambah lagi, ketika putranya Hashim, harus berurusan dengan Kejaksaan Agung, dalam kasus Bank Pelita.
Kini suasana keluarga Sumitro sedang temaram. Sanggupkah klan Djojohadikusumo bangkit kembali? Kemungkinan itu masih terbuka, karena daya tahan keluarga itu menghadapi gelombang kehidupan telah teruji oleh sang waktu.
*) Dimuat di Tabloid DETAK No. 09/I, 8-14 September 1998
Tidak ada komentar:
Posting Komentar