Inilah Dalang Kerusuhan Mei 1988
Abdul Hadi WM
Inilah Dalang Kerusuhan Mei 1998 Robert Strong
Obsesi saya selama 16 tahun terakhir adalah menemukan pihak yang menjadi dalang kerusuhan Mei 1998 sebab siapapun pihak yang berada di belakang serangkaian peristiwa di bulan-bulan terakhir Orde Baru yang berujung pada kerusuhan Mei 1998 itu sungguh sangat keji dan tidak berprikemanusiaan, membunuh ribuan manusia tidak berdosa hanya sekedar untuk menjatuhkan seorang presiden yang satu-satu kesalahan paling besar adalah berkuasa terlalu lama.
Sebagaimana kebanyakan rakyat Indonesia maka saya juga menghubungkan Kerusuhan Mei 1998 dengan persaingan antara dua jenderal yaitu Wiranto dan Prabowo. Semua bukti yang dipaparkan media massa selama ini memang mengerucut pada dua nama tersebut, masing-masing melakukan berbagai tindakan yang dapat diartikan sebagai usaha untuk mendukung Kerusuhan Mei 1998, seperti kepergian Wiranto ke Malang pada hari kerusuhan dengan membawa seluruh panglima angkatan perang; atau bercandaan Prabowo kepada Lee Kuan Yew menjelang Pemilu 1997 bahwa dia mungkin akan memberontak.
Namun demikian, hasil penelitian saya selama 16 tahun justru menemukan fakta yang berbeda, bahwa dalang sesungguhnya dari Kerusuhan Mei 1998 bukan Wiranto maupun Prabowo, melainkan para barisan sakit hati orde baru, dan berikut ini adalah hasil penelusuran saya tersebut.
Yang harus kita telusuri pertama kali adalah motivasi Kerusuhan Mei 1998, dan berdasarkan temuan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Mei 1998 ditemukan fakta bahwa pelaku utama kerusuhan adalah bukan rakyat setempat, melainkan orang-orang berbadan tegap berambut cepak yang secara terkoordinir memprovokasi rakyat dan menyiram gedung-gedung dengan bensin yang sudah mereka bawa kemudian membakar.
Setelah rakyat terprovokasi orang-orang ini kemudian menghilang. Semua petunjuk menunjukan bahwa provokator di lapangan adalah militer, namun pertanyaannya militer di bawah komando siapa? Ini adalah pertanyaan yang mungkin tidak akan pernah terungkap, akan tetapi dari keahlian para provokator itu dapat dipastikan mereka adalah intelijen dan bukan orang lapangan.
Akhirnya selama bertahun-tahun saya hanya bisa menduga-duga pelakunya antara Prabowo atau Wiranto, sampai suatu saat saya menemukan dua buku otobiografi yang melengkapi semua puzzle yang ada, yaitu buku Salim Said, dan Bill Tarrant, mantan kontributor asing the Jakarta Post, keduanya saya beli di Indonesia, yang pertama di Gramedia, yang kedua di Kinokuniya Plaza Senayan.
Banyak informasi penting dalam buku Salim Said, tapi yang paling penting adalah Benny Moerdani pernah mengatakan kepada dia dan angkatan 66 lain bahwa cara menjatuhkan Pak Harto adalah melalui berbagai kerusuhan untuk mendestabilisasi keadaan yang akan membuat kursi Pak Harto goyah dan saat itu Pak Harto akan mudah didongkel. Itu dia, ini jawabannya, dan semua masuk akal, siapa lagi yang bisa mengeksekusi pekerjaan intelijen serapi Kerusuhan Mei 1998 bila bukan raja intelijen, Benny Moerdani?
Jalinan cerita dari Salim Said tersebut kemudian menyambung dengan cerita Bill Tarrant bahwa The Jakarta Post yang tadinya diciptakan pendiri CSIS Jusuf Wanandi dan Ali Moertopo sebagai mesin propaganda Orde Baru ke dunia luar sejak tahun 1990 tiba-tiba ikut menyerang Orde Baru dengan isu HAM, demokrasi, bertepatan dengan tersingkirnya CSIS dari Orde Baru. Selain itu The Jakarta Post juga adalah kekuatan di belakang layar yang membangkitkan para LSM yang sudah menjelang mati suri untuk melawan Orde Baru, dan yang lebih penting lagi, The Jakarta Post adalah donatur utama dari gerakan mahasiswa 1997-1998, dan bahkan markas besar mahasiswa saat itu adalah kantor The Jakarta Post!!
Siapa menyangka bahwa provokator Kerusuhan Mei 1998 adalah kantor redaksi salah satu koran yang paling dihormati di Indonesia?? Tapi semua masuk akal sebab Benny Moerdani adalah bagian dari CSIS dan mewarisi jaringan opsus yang sudah dibangun oleh Ali Moertopo beserta strategi penggunaannya.
Sedangkan CSIS maupun Benny Moerdani, sebagaimana ditulis Jusuf Wanandi dalam The Shades of Grey/Membuka Tabir Orde Baru sangat dendam sebab Soeharto menyingkirkan mereka dan melupakan jasa Ali Moertopo maupun Hoemardani, patron CSIS.
Semua bertambah masuk akal bila kita mengingat strategi favorit Ali Moertopo dalam menjatuhkan lawan adalah mendestabilisasi keadaan. Dengan menggunakan cara ini dia berhasil memaksa Soekarno memberikan supersemar kepada Soeharto; dan dengan menempatkan kuda troya bernama Hariman Siregar, Ali Moertopo berhasil memancing mahasiswa Universitas Indonesia untuk terlibat dalam kerusuhan Malari yang pada akhirnya menjatuhkan saingan Ali Moertopo, Jenderal Soemitro.
Adapun keterangan bahwa Hariman Siregar adalah anak buah Ali Moertopo dan mendapat posisi di senat Universitas Indonesia adalah keterangan Jenderal Soemitro di pembelaan dirinya mengenai Malari. Semua bertambah masuk akal bila kita juga mengingat bahwa Benny Moerdani ada di belakang Megawati ketika kerusuhan 27 Juli 1996 pecah; dan menjelaskan mengapa jenderal-jenderal seperti Agum Gumelar; SBY; Sutiyoso; Hendropriyono berani bersekongkol dengan Megawati mencetuskan Kerusuhan 27 Juli 1996, sebab mereka mendapat dukungan dari Benny Moerdani.
Soeharto sendiri tampaknya sudah tahu bahwa Benny Moerdani ada di belakang kejatuhan dirinya, sebab sesaat setelah dia lengser keprabon, Soeharto segera merajut hubungan kembali dengan Benny, termasuk pertemuan bertiga antara dirinya, Gus Dur dan Benny di luar kota Jakarta. Berdasarkan semua uraian di atas dapat disimpulkan bahwa CSIS dan Benny Moerdani adalah aktor utama Kerusuhan Mei 1998 dan bukan Wiranto maupun Prabowo
Jenderal-Jenderal Dalang Kerusuhan Mei 1998
Pembicaraan di rumah Fahmi Idris, tokoh senior Golkar adalah bukti paling kuat yang menghubungkan Benny Moerdani dengan berbagai kerusuhan massa yang sangat marak menjelang akhir Orde Baru.
Terbukanya niat Benny menjatuhkan Soeharto melalui gerakan massa yang berpotensi mengejar orang Cina dan orang Kristen. Kesaksian Salim Said ini merupakan titik tolak paling penting guna membongkar berbagai kerusuhan yang tidak terungkap seperti Peristiwa 27 Juli 1996 dan Kerusuhan 13-14 Mei 1998.
" Bersama Presiden Soeharto, Benny adalah Penasihat YPPI yang didirikan oleh para mantan tokoh demonstrasi 1966 dengan dukungan Ali Moertopo. Hadir di rumah Fahmi [Idris] pada malam itu para pemimpin demonstrasi 1966 seperti Cosmas Batubara, dr. Abdul Ghafur, Firdaus Wajdi, Suryadi [Ketua PDI yang menyerang Kubu Pro Mega tanggal 27 Juli 1996]; Sofjan Wanandi; Husni Thamrin dan sejumlah tokoh. Topik pembicaraan, situasi politik waktu itu...
Moerdani berbicara mengenai Soeharto yang menurut Menhankam itu, 'Sudah tua, bahkan sudah pikun, sehingga tidak bisa lagi mengambil keputusan yang baik. Karena itu sudah waktunya diganti'...Benny kemudian berbicara mengenai gerakan massa sebagai jalan untuk menurunkan Soeharto.
Firdaus Wajdi menanggapi, 'Kalau menggunakan massa, yang pertama dikejar adalah orang Cina dan kemudian kemudian gereja. ' " – (Salim Said, Dari Gestapu Ke Reformasi, serangkaian kesaksian, Penerbit Mizan, halaman 316)
(`Peristiwa 27 Juli 1996 Adalah Politik Dizalimi Paling Keji Sepanjang Sejarah Indonesia)
Selanjutnya bila kita hubungkan kesaksian Salim Said di atas dengan kesaksian RO Tambunan bahwa dua hari sebelum kejadian Megawati sudah mengetahui dari Benny akan terjadi serangan terhadap kantor PDI .
Catatan Rachmawati Soekarnoputri, Membongkar Hubungan Mega dan Orba sebagaimana dimuat Harian Rakyat Merdeka Rabu, 31 Juli 2002 dan Kamis, 1 Agustus 2002.
Maka kita menemukan bukti adanya persekongkolan antara Benny Moerdani yang sakit hati kepada Soeharto karena dicopot dari Pangab (kemudian menjadi menhankam, jabatan tanpa fungsi)
Sedangkan keterlibatan Megawati adalah untuk menaikan seseorang dari keluarga Soekarno
sebagai lawan tanding Soeharto. Kebetulan saat itu hanya Megawati yang mau jadi bekerja sama Benny Moerdani.
Dari Catatan Rachmawati Soekarnoputri ada kutipan seperti ini: " Sebelum mendekati Mega, kelompok Benny Moerdani mendekati saya [Rachmawati] terlebih dahulu. Mereka membujuk dan meminta saya tampil memimpin PDI. Permintaan orang dekat dan tangan kanan Soeharto itu jelas saya tolak. Bagi saya, PDI itu Cuma alat hegemoni Orde Baru yang dibentuk sendiri oleh Soeharto tahun 1973. Coba renungkan untuk apa jadi pemimpin boneka?
Orang-orang PDI yang dekat dengan Benny Moerdani, seperti Soerjadi dan Aberson Marie Sihaloho pun ikut mengajak saya gabung ke PDI. Tetapi tetap saya tolak ."
Dari ketiga catatan di atas kita menemukan nama-nama yang saling terkait dalam Peristiwa 27 Juli 1996, antara lain: Benny Moerdani; Megawati Soekarnoputri; Dr. Soerjadi; Sofjan Wanandi;
dan Aberson Marie Sihaloho, dan ini adalah "eureka moment" yang membongkar persekongkolan jahat karena Aberson Marie Sihaloho, adalah orang yang pertama kali menyebar pamflet untuk regenerasi kepemimpinan Indonesia dan di ganti Megawati, sehingga menimbulkan kecurigaan dari pihak Mabes ABRI.
Dr. Soerjadi adalah orang yang menggantikan Megawati sebagai Ketua Umum PDI di Kongres Medan (kongres dibiayai Sofjan Wanandi dari CSIS) yang mengumpulkan massa menyerbu kantor PDI dan selama ini dianggap perpanjangan tangan Soeharto ternyata agen ganda bawahan Benny Moerdani, dan tentu saja saat itu Agum Gumelar dan AM Hendropriyono, dua murid Benny Moerdani berada di sisi Megawati atas perintah Benny Moerdani sebagaimana disaksikan Jusuf Wanandi dari CSIS dalam Memoirnya, A Shades of Grey-Membuka Tabir Orde Baru.-
Semua fakta ini juga membuktikan bahwa dokumen yang ditemukan pasca ledakan di Tanah Tinggi tanggal 18 Januari 1998 yang mana menyebutkan rencana revolusi dari Benny Moerdani;
Megawati; CSIS dan Sofjan-Jusuf Wanandi yang membiayai gerakan PRD adalah dokumen asli dan otentik serta bukan dokumen buatan intelijen untuk mendiskriditkan PRD sebagaimana diklaim oleh Budiman Sejatmiko selama ini.
Ini menjelaskan mengapa Presiden Megawati menolak menyelidiki Peristiwa 27 Juli 1996 sekalipun harus mengeluarkan kalimat pahit kepada anak buahnya seperti "Siapa suruh kalian mau ikut saya?" dan justru memberi jabatan sangat tinggi kepada masing-masing SBY yang memimpin rapat penyerbuan Operasi Naga Merah; Sutiyoso yang komando lapangan penyerbuan Operasi Naga Merah; Agum Gumelar dan Hendropriyono yang pura-pura
melawan koleganya. Megawati melakukan bunuh diri bila menyelidiki kejahatannya sendiri!
Kerusuhan Mei 1998, Gerakan Benny Moerdani Menggulung Soeharto; Prabowo; dan Menaikan Megawati Soekarnoputri ke Kursi Presiden. Pernahkah anda mendengar kisah Kapten Prabowo melawan usaha kelompok Benny Moerdani dan CSIS mendeislamisasi Indonesia? Ini fakta dan bukan bualan. Banyak buku sejarah yang sudah membahas hal ini, dan salah satunya cerita dari Kopassus di masa Benny meenjadi Panglima.
Saat Benny menginspeksi ruang kerja perwira bawahan dia melihat sajadah di kursi dan bertanya "Apa ini?", jawab sang perwira, "Sajadah untuk shalat, Komandan." Benny membentak "TNI tidak mengenal ini." Benny juga sering mengadakan rapat staf pada saat menjelang ibadah Jumat, sehingga menyulitkan perwira yang mau sholat Jumat.
Hartono Mardjono sebagaimana dikutip Republika tanggal 3 Januari 1997 mengatakan bahwa rekrutan perwira Kopassus sangat diskriminatif terhadap yang beragama Islam, misalnya
kalau direkrut 20 orang, 18 di antaranya adalah perwira beragama non Islam dan dua dari Islam.
Penelitian Salim Said juga menemukan hal yang sama bahwa para perwira yang menonjol keislamannya, misalnya mengirim anak ke pesantren kilat pada masa libur atau sering menghadiri pengajian diperlakukan diskriminatif dan tidak akan mendapat kesempatan
sekolah karena sang perwira dianggap fanatik, sehingga sejak saat itu karir militernya suram.
Silakan perhatikan siapa para perwira tinggi beken yang diangkat dan menduduki pos penting pada masa Benny Moerdani menjadi Pangad atau Menhankam seperti Sintong Panjaitan; Try Sutrisno; Wiranto; Rudolf Warouw; Albert Paruntu; AM Hendropriyono; Agum Gumelar; Sutiyoso; Susilo Bambang Yudhoyono; Luhut Panjaitan; Ryamizard Ryacudu; Johny Lumintang; Albert Inkiriwang; Herman Mantiri; Adolf Rajagukguk; Theo Syafei dan lain sebagainya akan terlihat sebuah pola tidak terbantahkan bahwa perwira yang diangkat pada masa Benny Moerdani berkuasa adalah non Islam atau Islam abangan (yang tidak dianggap "fanatik" atau berada dalam golongan "islam santri" menurut versi Benny).
Mengapa Benny Moerdani dan CSIS mau mendeislamisasi Indonesia? Karena CSIS didirikan oleh agen CIA, Pater Beek yang awalnya ditempatkan di Indonesia untuk melawan komunis, namun setelah komunis kalah dia membuat analisa bahwa lawan Amerika berikutnya di Indonesia hanya dua, "Hijau ABRI" dan "Hijau Islam".
Lalu, Peter Beek menyimpulkan ABRI bisa dimanfaatkan untuk melawan Islam, maka berdirilah CSIS yang dioperasikan oleh anak didiknya di Kasebul, Sofjan Wanandi, Jusuf Wanandi, Harry Tjan Silalahi, mewakili ABRI: Ali Moertopo, dan Hoemardani (baca kesaksian George Junus Aditjondro, murid Pater Beek).
Pater Beek yang awalnya ditempatkan di Indonesia untuk melawan komunis namun setelah komunis kalah dia membuat analisa bahwa lawan Amerika berikutnya di Indonesia hanya dua, "Hijau ABRI" dan "Hijau Islam"
Apa benar Wiranto anak buah Benny Moerdani? Benar sekali, bahkan Salim Said dan Jusuf Wanandi mencatat bahwa Wiranto menghadap Benny Moerdani beberapa saat setelah dilantik sebagai KSAD pada Juni 1997. Saat itu Benny memberi pesan sebagai berikut: " Jadi, kau harus tetap di situ sebab kau satu-satunya orang kita di situ. Jangan berbuat salah dan jangan dekat dengan saya sebab kau akan dihabisi Soeharto jika dia tahu. " (Salim Said, halaman 320)
Tentu saja Wiranto membantah dia memiliki hubungan dekat dengan Benny Moerdani namun kita memiliki cara membuktikan kebohongannya. Pertama, dalam Memoirnya, Jusuf Wanandi
menceritakan bahwa pasca jatuhnya Soeharto, Wiranto menerima dari Benny Moerdani daftar nama beberapa perwira yang dinilai sebagai "ABRI Hijau", dan dalam sebulan semua orang dalam daftar nama tersebut sudah disingkirkan Wiranto. Ketika dikonfrontir mengenai hal ini Wiranto mengatakan cerita "daftar nama" adalah bohong.
Namun bila kita melihat catatan penting masa setelah Soeharto jatuh maka kita bisa melihat bahwa memang terjadi banyak perwira "hijau" di masa Wiranto yang waktu itu dimutasi dan hal ini sempat menuai protes. Fakta bahwa Wiranto adalah satu-satunya orang Benny Moerdani
yang masih tersisa di sekitar Soeharto menjawab sekali untuk selamanya mengapa Wiranto menjatuhkan semua kesalahan terkait Operasi Setan Gundul kepada Prabowo; mengatakan kepada BJ Habibie bahwa Prabowo mau melakukan kudeta sehingga Prabowo dicopot; dan menceritakan kepada mertua Prabowo, Soeharto bahwa Prabowo dan BJ Habibie bekerja sama menjatuhkan Soeharto, sehingga Prabowo diusir dan dipaksa bercerai dengan Titiek Soeharto.
Hal ini sebab Wiranto adalah eksekutor dari rencana Benny Moerdani menjatuhkan karir dan
menistakan Prabowo. Membicarakan "kebejatan" Prabowo tentu tidak lengkap tanpa mengungkit Kerusuhan Mei 1998 yang ditudingkan pada dirinya padahal saat itu jelas-jelas Wiranto sebagai Panglima ABRI pergi ke Malang membawa semua kepala staf angkatan darat, laut dan udara serta menolak permintaan Prabowo untuk mengerahkan pasukan demi mengusir perusuh.
Berdasarkan temuan fakta di atas bahwa Benny Moerdani mau menjatuhkan Soeharto melalui kerusuhan rasial dan Wiranto adalah satu-satunya orang Benny di lingkar dalam Soeharto maka
sangat patut diduga Wiranto memang sengaja melarang pasukan keluar dari barak menghalangi kerusuhan sampai mariner berinisiatif keluar kandang.
Selain itu tiga fakta yang menguatkan kesimpulan kelompok Benny Moerdani ada di belakang Kerusuhan Mei 98 adalah sebagai berikut:
1. Menjatuhkan lawan menggunakan "gerakan massa" adalah keahlian Ali Moertopo (guru Benny Moerdani) dan CSIS sejak Peristiwa Malari di mana malari meletus karena provokasi Hariman Siregar, binaan Ali Moertopo (lihat kesaksian Jenderal Soemitro yang dicatat oleh Heru Cahyono dalam buku (Pangkopkamtib Jenderal Soemitro dan Peristiwa 15 Januari 74 terbitan SinarHarapan).
2. Menurut catatan TGPF Kerusuhan Mei 98 penggerak lapangan adalah orang berkarakter militer dan sangat cekatan dalam memprovokasi warga menjarah dan membakar. Ini jelas ciri-ciri orang yang terlatih sebagai intelijen, dan baik Wiranto maupun Prabowo adalah perwira lapangan tipe komando bukan tipe intelijen, dan saat itu hanya Benny Moerdani yang memiliki kemampuan menggerakan kerusuhan skala besar karena dia mewarisi taktik dan jaringan yang dibangun Ali Moertopo (mengenai jaringan yang dibangun Ali Moertopo bisa dibaca di buku(Rahasia-Rahasia Ali Moertopo terbitan Tempo-Gramedia).
Lagipula saat kejadian terbukti Benny Moerdani sedang rapat di Bogor dan ada laporan intelijen bahwa orang lapangan saat kerusuhan 27 Juli 1996 dan Mei 98 dilatih di Bogor!
3. Alasan Megawati setuju menjadi alat Benny Moerdani padahal saat itu keluarga Soekarno sudah sepakat tidak terjun ke politik dan alasan Benny Moerdani begitu menyayangi Megawati
mungkin adalah karena mereka sebenarnya pernah menjadi calon suami istri dan Soekarno sendiri pernah melamar Benny, pahlawan Palangan Irian Jaya itu untuk Megawati, namun kemudian Benny memilih Hartini wanita yang menjadi istrinya sampai Benny meninggal (Salim Said, halaman 329). Berdasarkan semua fakta dan uraian di atas maka kiranya sudah tidak bisa dibantah bahwa alasan Kelompok Benny Moerdani, dalang Peristiwa 27 Juli 1996 dan Kerusuhan Mei 1998.
Inilah Dalang Kerusuhan Mei 1998 Robert Strong
Obsesi saya selama 16 tahun terakhir adalah menemukan pihak yang menjadi dalang kerusuhan Mei 1998 sebab siapapun pihak yang berada di belakang serangkaian peristiwa di bulan-bulan terakhir Orde Baru yang berujung pada kerusuhan Mei 1998 itu sungguh sangat keji dan tidak berprikemanusiaan, membunuh ribuan manusia tidak berdosa hanya sekedar untuk menjatuhkan seorang presiden yang satu-satu kesalahan paling besar adalah berkuasa terlalu lama.
Sebagaimana kebanyakan rakyat Indonesia maka saya juga menghubungkan Kerusuhan Mei 1998 dengan persaingan antara dua jenderal yaitu Wiranto dan Prabowo. Semua bukti yang dipaparkan media massa selama ini memang mengerucut pada dua nama tersebut, masing-masing melakukan berbagai tindakan yang dapat diartikan sebagai usaha untuk mendukung Kerusuhan Mei 1998, seperti kepergian Wiranto ke Malang pada hari kerusuhan dengan membawa seluruh panglima angkatan perang; atau bercandaan Prabowo kepada Lee Kuan Yew menjelang Pemilu 1997 bahwa dia mungkin akan memberontak.
Namun demikian, hasil penelitian saya selama 16 tahun justru menemukan fakta yang berbeda, bahwa dalang sesungguhnya dari Kerusuhan Mei 1998 bukan Wiranto maupun Prabowo, melainkan para barisan sakit hati orde baru, dan berikut ini adalah hasil penelusuran saya tersebut.
Yang harus kita telusuri pertama kali adalah motivasi Kerusuhan Mei 1998, dan berdasarkan temuan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Mei 1998 ditemukan fakta bahwa pelaku utama kerusuhan adalah bukan rakyat setempat, melainkan orang-orang berbadan tegap berambut cepak yang secara terkoordinir memprovokasi rakyat dan menyiram gedung-gedung dengan bensin yang sudah mereka bawa kemudian membakar.
Setelah rakyat terprovokasi orang-orang ini kemudian menghilang. Semua petunjuk menunjukan bahwa provokator di lapangan adalah militer, namun pertanyaannya militer di bawah komando siapa? Ini adalah pertanyaan yang mungkin tidak akan pernah terungkap, akan tetapi dari keahlian para provokator itu dapat dipastikan mereka adalah intelijen dan bukan orang lapangan.
Akhirnya selama bertahun-tahun saya hanya bisa menduga-duga pelakunya antara Prabowo atau Wiranto, sampai suatu saat saya menemukan dua buku otobiografi yang melengkapi semua puzzle yang ada, yaitu buku Salim Said, dan Bill Tarrant, mantan kontributor asing the Jakarta Post, keduanya saya beli di Indonesia, yang pertama di Gramedia, yang kedua di Kinokuniya Plaza Senayan.
Banyak informasi penting dalam buku Salim Said, tapi yang paling penting adalah Benny Moerdani pernah mengatakan kepada dia dan angkatan 66 lain bahwa cara menjatuhkan Pak Harto adalah melalui berbagai kerusuhan untuk mendestabilisasi keadaan yang akan membuat kursi Pak Harto goyah dan saat itu Pak Harto akan mudah didongkel. Itu dia, ini jawabannya, dan semua masuk akal, siapa lagi yang bisa mengeksekusi pekerjaan intelijen serapi Kerusuhan Mei 1998 bila bukan raja intelijen, Benny Moerdani?
Jalinan cerita dari Salim Said tersebut kemudian menyambung dengan cerita Bill Tarrant bahwa The Jakarta Post yang tadinya diciptakan pendiri CSIS Jusuf Wanandi dan Ali Moertopo sebagai mesin propaganda Orde Baru ke dunia luar sejak tahun 1990 tiba-tiba ikut menyerang Orde Baru dengan isu HAM, demokrasi, bertepatan dengan tersingkirnya CSIS dari Orde Baru. Selain itu The Jakarta Post juga adalah kekuatan di belakang layar yang membangkitkan para LSM yang sudah menjelang mati suri untuk melawan Orde Baru, dan yang lebih penting lagi, The Jakarta Post adalah donatur utama dari gerakan mahasiswa 1997-1998, dan bahkan markas besar mahasiswa saat itu adalah kantor The Jakarta Post!!
Siapa menyangka bahwa provokator Kerusuhan Mei 1998 adalah kantor redaksi salah satu koran yang paling dihormati di Indonesia?? Tapi semua masuk akal sebab Benny Moerdani adalah bagian dari CSIS dan mewarisi jaringan opsus yang sudah dibangun oleh Ali Moertopo beserta strategi penggunaannya.
Sedangkan CSIS maupun Benny Moerdani, sebagaimana ditulis Jusuf Wanandi dalam The Shades of Grey/Membuka Tabir Orde Baru sangat dendam sebab Soeharto menyingkirkan mereka dan melupakan jasa Ali Moertopo maupun Hoemardani, patron CSIS.
Semua bertambah masuk akal bila kita mengingat strategi favorit Ali Moertopo dalam menjatuhkan lawan adalah mendestabilisasi keadaan. Dengan menggunakan cara ini dia berhasil memaksa Soekarno memberikan supersemar kepada Soeharto; dan dengan menempatkan kuda troya bernama Hariman Siregar, Ali Moertopo berhasil memancing mahasiswa Universitas Indonesia untuk terlibat dalam kerusuhan Malari yang pada akhirnya menjatuhkan saingan Ali Moertopo, Jenderal Soemitro.
Adapun keterangan bahwa Hariman Siregar adalah anak buah Ali Moertopo dan mendapat posisi di senat Universitas Indonesia adalah keterangan Jenderal Soemitro di pembelaan dirinya mengenai Malari. Semua bertambah masuk akal bila kita juga mengingat bahwa Benny Moerdani ada di belakang Megawati ketika kerusuhan 27 Juli 1996 pecah; dan menjelaskan mengapa jenderal-jenderal seperti Agum Gumelar; SBY; Sutiyoso; Hendropriyono berani bersekongkol dengan Megawati mencetuskan Kerusuhan 27 Juli 1996, sebab mereka mendapat dukungan dari Benny Moerdani.
Soeharto sendiri tampaknya sudah tahu bahwa Benny Moerdani ada di belakang kejatuhan dirinya, sebab sesaat setelah dia lengser keprabon, Soeharto segera merajut hubungan kembali dengan Benny, termasuk pertemuan bertiga antara dirinya, Gus Dur dan Benny di luar kota Jakarta. Berdasarkan semua uraian di atas dapat disimpulkan bahwa CSIS dan Benny Moerdani adalah aktor utama Kerusuhan Mei 1998 dan bukan Wiranto maupun Prabowo
'PERLAWANAN' PRABOWO PADA BENNY MOERDANI"
Tentang Prabowo Subianto sang
Senopati Wirang untold Story ...
Sedikit orang yang tahu bhw
perkawinan Prabowo Subianto dgn Titik H Suharto pada thn1983 adalah berkat jasa
LB Moerdani. Prabowo pada 1982 - 1985 berpangkat Mayor adalah staf khusus
Menhankam/Pangab LB Moerdani. Moerdani sudah lama mengamati Prabowo
Sejak lulus Akmil berpangkat Letda,
Moerdani serius mencermati dan menilai perilaku, karakter dan kinerja Prabowo.
Kesimpulannya : Luar Biasa. Disamping memiliki kejeniusan (IQ 152), Prabowo
sangat berani, patriotik, sangat cinta tanah air. Dalam cerita2 Jawa : Senopati
Wirang
Menhankam Pangab LB Moerdani tahu persis Prabowo sudah
dijodohkan dengan putri seorang jenderal yg juga dokter. Moerdani diam2 tidak
setuju. Pada tahun 1982-1985 itu LB Moerdani adalah tokoh yang sangat
dipercayai oleh Presiden Soeharto. Saran2nya didengar dan sering diterima. Besarnya
Kepercayaan Soeharto kepada Moerdani karena dia selalu menunjukan loyalitasnya terhadap
Soeharto, jadi pengaman kekuasaan
Soeharto atau Orba. LB Moerdani kebetulan jg penganut Katolik, sama dgn Ibu
Tien. Pak Harto Islam abangan, lebih ke Kejawen (Bhirawa).
Moerdani lobi Bu Tien
Moerdani melobi Ibu Tien agar setuju
mengambil Mayor Prabowo menjadi calon menantu menjodohkannya dgn Titiek Hediati
Hariyadi Suharto. Bu Tien setuju dan Pak Harto pun setuju. Mereka tidak tahu
Prabowo sudah bertunangan. Akhirnya pertunangan Prabowo dbatalkan, Setelah
melalui proses lamaran, Prabowo kemudian
menikahi Titiek Suharto. Semula LB Moerdani berharap Prabowo akan menjadi mata
dan telinganya di Cendana. Menjadi tangan kanan Moerdani dalam menggapai
cita2nya.
LB Moerdani tidak menyangka Mayor
Prabowo setelah jadi menantu Soeharto malah mengkhianati Moerdani, berpihak
kepada Pak Harto/Cendana. Moerdani salah menganalisa dan menilai Prabowo yg Islam
abangan, berayahkan sosialis sekuler, ibu dan saudara2nya Kristen non muslim.
Moerdani merasa tidak berisiko
ketika dia memaparkan rencananya selaku Menhankam Panglima ABRI untuk
menghancurkan Islam RI secara sistematis, termasuk rencana Moerdani untuk
merekayasa stigma negatip pada umat Islam Indonesia sebagai "ancaman terhadap
Negara dan kekuasaan Soeharto"
Contohnya ABRI membantai ratusan
umat Islam pada peristiwa Tanjung Priok. Moerdani melakukan pengondisian agar
Islam = musuh negara ! Moerdani memaparkan bagaimana ABRI "menciptakan
terorisme Islam", "pembangkangan Islam", "Islam
Phobia" dst ..lalu menumpasnya secara keji. Moerdani menapak karier di
ABRI dgn cara menciptakan Islam sebagai musuh negara dan kemudian ditumpas.
Karena itu dia dapat penghargaan dan
pujian Soeharto.
Ketika Prabowo tahu rencana besar
dan rekayasa2 yang pernah dilakukan Moerdani dalam rangka membenturkan Islam degan
Pak Harto, dia bocorkan. Prabowo melaporkan rencana Moerdani terhadap umat
Islam Indonesia kepada Suharto, mertuanya. Pak Harto kaget, marah dan
menyesalkan. Sebelumnya, Pak Harto sudah
lama mendengar adanya rekayasa petinggi ABRI terhadap sejumlah peristiwa
terkait "makar kelompok
Islam", tapi, Pak Harto abaikan, ia nilai itu hanyalah ekses rivalitas di
internal ABRI. Kali ini informasi itu datang dari menantunya sendiri.
Prabowo menilai Moerdani punya
agenda lebih besar dengan merekayasa benturan antara Umat islam dgn Suharto. Moerdani
ingin jadi Presiden. Cita2 Moerdani
menjadi Presiden setelah Pak Harto lengser sangat besar dan hanya bisa terwujud
jika Islam dan Pak Harto bermusuhan.
Karena jika Hubungan Umat Islam dan
Pak Harto baik/normal, maka akan sulit bagi Moerdani yang Katolik menjadi
wapres pada tahun 1988. Pak Harto pasti memperhatikan aspirasi umat Islam saat
penetapan wapresnya pada 1988. Oleh sebab itu hubungan Suharto - Islam harus
dirusak.
Selanjutnya Moerdani berharap, setelah menjabat wapres
pada 1988, kemungkinan besar Pak Harto akan mundur pada tahun 1993.Pada saat itu Moerdani jadi RI -1
Rencana Moerdani terhadap umat islam
Indonesia ini dinilai Prabowo sangat membahayakan posisi Pak Harto. Islam
mayoritas di RI
Lebih kecil risikonya bagi Soeharto
membina hubungan baik dgn umat Islam daripada menjadikan Islam sebagai musuh
negara. Karena itu Prabowo
membocorkannya
Setelah dapat laporan Prabowo
mengenai rencana keji ABRI diotaki Menhankam/Pangab Moerdani, Soeharto tidak
langsung bertindak. Pak Harto diam2 mencegah
rencana keji LB Moerdani degan menempatkan / promosikan sejumlah perwira tinggi
ABRI yang kuat keislamannya.
Selain mempromosikan perwira2 Islam
ABRI, Pak Harto juga promosikan perwira2 dari kesatuan lain yang tidak
berhubungan dgn jaringan Moerdani. Akibatnya Menhankam/Pangab Moerdani tidak
lagi bisa bergerak bebas karena dikelilingi oleh jenderal2 Islam (TNI Hijau).
Dia terjepit. Puncak kekesalan Moerdani terjadi ketika Pak Harto mencopot
Moerdani dari jabatan Pangab thn 1988 dan menunjuk Try Soetrisno jadi Pangab.
Try Soetrisno tidak berasal dari
Akmil tapi dari Atekad (Akademi teknik AD), bukan perwira intelijen, tidak ada
sentuhan dari Moerdani. Moerdani yang marah dan kecewa terhadap Soeharto
kemudian merencanakan balas dendam besar2an degan berencana menjatuhkan
Soeharto.
Sebelumnya pada tahun 1984, Moerdani berhasil mengompori umat Islam agar
marah kepada Suharto degan menerapkan kewajiban azas tunggal. Seluruh Ormas dan
partai di Indonesia harus mencantumkan Pancasila sebagai satu2nya azas. Tidak boleh memakai azas Islam
atau azas lain. Harus Pancasila. Reaksi keras umat Islam terhadap penerapan
azas tunggal Pancasila memang diharapkan Moerdani. Bahkan Moerdani kondisikan
agar Islam berontak.
Jaringan intelejen Moerdani
disusupkan ke ormas2 Islam dan ditugaskan untuk mengipasi2i tokoh2 ormas Islam
memberontak terhadap Suharto. Tujuannya agar Suharto marah sama Islam dan Islam
dinilai sebagai ancaman terhadap Negara , lalu ABRI diperintahkan membantai
"musuh tersebut."
Rencana Benny Moerdani kandas, gagal
total, karena ormas2 Islam juga didekati orang2 Suharto dan diberi pengertian
kondisi sebenarnya. Moerdani kemudian
tahu bahwa penyebab kegagalan rencana besarnya menstigmasasi Islam sebagai
musuh negara dikarenakan laporan Prabowo.
Prabowo sempat "dibuang"
oleh Moerdani dengan memutasikannya menjadi Kasdim (kepala staf kodim), namun
oleh Kasad Rudini, Prabowo dipulihkan. Sejak itu, dalam otak Moerdani ada 2
musuh besar yang harus dihancurkan yakni Prabowo dan Suharto. Moerdani lalu menyusun rencana strategis.
Puluhan tahun menjadi pimpinan ABRI dan Intelijen, antek2 Moerdani masih
banyak. Dua yang menonjol : Luhut Panjaitan dan Hendropriyono. Meski LB
Moerdani sudah tidak jadi panglima ABRI dan Menhankam, dia masih bisa
memerintahkan Hendropriyono untuk back up
PDI Megawati. Saat itu Megawati adalah simbol perlawanan terhadap Presiden
Suharto khususnya melalui PDI. Kongres PDI terpecah menghasilkan PDI Kembar.
Keberadaan PDI kembar : satu
diketuai Soerjadi dan satu lagi dipimpin Megawati, bisa terjadi karena ada
dukungan Jenderal pro Moerdani. Pada saat itu, keberhasilan Prabowo meyakinkan
Pak Harto dan Ibu Tien terhadap bahaya besar yang sedang direncanakan Moerdani,
menyebabkan Pak Harto dapat menerima dan
mempercayai Prabowo sepenuhnya, termasuk
saran Prabowo agar Pak Harto membina hub mesra dengan Islam.
Penerapan azas tunggal Pancasila
yang menimbulkan reaksi keras umat Islam, tidak meletus menjadi bencana dengan
perubahan sikap Pak Harto yang mulai
mendekati Islam. Ibu Tien menjadi mualaf, disusul Pak Harto dan kemudian Pak
Harto sekeluarga menunaikan Ibadah Haji.
Pak Harto berhasil membangun hubungan
harmonis dengan umat Islam. Suatu
hubungan baik yang belum pernah terjalin selama 24 thn Suharto berkuasa. Tahun
1990 merupakan tahun kemerdekaan umat Islam Indonesia setelah "dijajah dan
ditindas" selama 24 tahun Orde baru atau Suharto.
Puncaknya 7 Des 1990 ICMI didirikan
di Universitas Brawijaya Malang. Tahun
1993 menteri2 Kabinet dan petinggi2 ABRI mulai dijabat tokoh dan perwira Muslim.
Benny Moerdani dan kelompoknya terus
mencari jalan bagamana menghancurkan Soeharto dan Prabowo. Akhirnya ditemukan
cara : Penculikan !
Penculikan/pembunuhan sejumlah warga
pada tahun 1997 menjelang pemilu dan kemudian diikuti dgn penculikan/pembunuhan
setelah SU MPR 1998. Saat terjadi Penculikan/pembunuhan menjelang pemilu 1997
sama sekali belum ada tuduhan kepada Kopassus sebagai terduga pelakunya.
Namun ketika Tim Mawar melakukan
penculikan aktivis pada 2-4 Februari 1998 dan 12-13 Maret 1998 dalam rangka
terjadi kebocoran operasi
Kebocoran informasi mengenai operasi
Tim Mawar dalam rangka pengaman SU MPR terjadi karena ada 1 target, yakni Andi
Arief belum diringkus. Andi Arief sempat kabur, dicari kemana2, akhirnya
ditemukan di persembunyiannya di Lampung. Dibawa ke Jakarta jalur darat via
Bakauheni.
Saat Tim Mawar menaiki Kapal Ferry
di Bakauheni, petugas polisi menghentikan Tim Mawar yang membawa Andi Arief dengan
mata tertutup kain. Meski Tim Mawar
kemudian diizinkan masuk Ferry setelah menunjukan kartu pengenal, kejadian ini
dilaporkan polisi ke Den Pom Lampung. Lalu Den Pom Lampung meneruskan info ini ke Dan Puspom
TNI di Jakarta. Saat itulah info bocor, lalu ditunggangi oknum2 TNI binaan
Moerdani.
Peristiwa penangkapan Andi Arief di
Lampung dan dibawa ke Jakarta pada tgl 28 Maret 1998, ditunggangi dengan
terjadinya penculikan lain susulan pada tanggal 30 Maret 1998 dengan korban
Petrus Bima Anugrah, dilakukan oleh Tim Lain bukan Tim Mawar
Sebelumnya Tim Lain juga sudah menunggangi
penculikan Herman Hendarwan pada tgl 12 Maret 1998. Para korban ini hilang, mati
dibunuh.
Korban penculikan Tim Lain semua
dibunuh, mayoritas non muslim agar menimbulkan kesan pembunuhan dilakukan oleh
Kopassus pimp Prabowo. Fitnah terhadap Prabowo, Kopassus melalui penculikan/
pembunuhan warga/aktivis adalah untuk tujuan akhirnya utk melemahkan Suharto.
Karena untuk menghancurkan Suharto
harus terlebih dahulu menghancurkan penopang utama kekuasaan Suharto yakni TNI.
Kekuatan inti TNI ada pada Kopassus sebagai kesatuan elit yang paling
dibanggakan TNI. Pemilihan target korban
yg umumnya non muslim/katolik dimaksudkan "menghilangkan jejak
pelaku" sekaligus memancing perhatian Dunia seolah2 di Indonesia sedang
berkuasa rezim Suharto yang anti katolik/ Kristen. Media2 yg dimiliki Katolik
dan Kristen pun bersuara sangat keras.
Akibatnya, Prabowo - Kopassus - TNI
- Suharto babak belur dihajar dan difitnah Moerdani cs melalui penunggangan
operasi Tim Mawar ini. Namun Pak Harto
tetap bertahan. Sampai akhirnya terjadi peristiwa kerusuhan Mei 1998, yang
diawali dengan penembakan terhadap Mahasiswa Trisakti.
Peristiwa Trisakti jelas ditunggangi
kelompok Benny Moerdani dgn memfitnah Polres Jakarta Barat, Brimob dan Kopassus sebagai pelakunya. Krisis
Moneter yang diperburuk oleh perampokan
fasilitas BLBI oleh Bankir pengemplang melalui rekayasa kredit & tagihan pihak
ketiga yg macet dll. Sampai hari ini Negara kita masih terbebani utang BLBI
sebesar lebih Rp 600 triliun, baru lunas dibayar via APBN hingga 2032 yad. Krisis Moneter, rekayasa opini, fitnah,
kerusuhan Mei 1998 menjadi penyebab utama kejatuhan Soeharto 20 Mei 1998.
Pada saat kerusuhan Mei 1998 kembali
TNI, Kopassus dan Prabowo dijadikan kambing hitam oleh kelompok Moerdani. Situasi
kacau dan tak terkendali dimanfaatkan para perusuh diduga kesatuan loyalis
Moerdani cs utk membakar kota dan mengeruhkan situasi. Kehadiran sekelompok
orang tidak dikenal membuat rusuh, terkordinir dan ini yang dibaca Prabowo sebagai
faktor dominan yang membahayakan Negara.
Paska kerusuhan dikembangkan opini
sampai ke seluruh dunia seolah2 telah terjadi pemerkosaan terhadap wanita2 Cina,
tuduhan itu tdk terbukti. Tuduhan itu tidak terbukti sama sekali. Secara teori
pun mustahil ada org yg sempat dan berhasrat melakukan pemerkosaan di tengah2
kerusuhan. Tuduhan itu hanya utk menjatuhkan TNI, menghancurkan Suharto dan
Prabowo. Fitnah itu sukses besar. Suharto pun termakan fitnah tsb
Laporan sejumlah jenderal langsung
ke Suharto menghasilkan pengusiran Prabowo oleh keluarga karena dianggap
pengkhianat, Prabowo tidak diberi
kesempatan menjelaskan fakta sebenarnya kepada Suharto. Operasi Inteljen,
penyesatan fakta &informasi Moerdani. Operasi itu sangat rapi, cermat dan
dibantu media2 kolaborator Moerdani. Lalu
Prabowo dicap pengkhianat Suharto.
Kebangkitan Islam Indonesia era 1990-an
dinilai jadi ancaman oleh AS, Barat, Australia & Singapore. Sejalan dengan
teori pasca perang dingin. Teori/pendapat Samuel P. Hutington dlm tulisannya
“The Clash of Civilization” (benturan peradaban) terus menerus dikembangkan di
Barat. Islam dikembangkan sebagai musuh baru dunia Barat paska kejatuhan
Komunis Uni Soviet & Eropa Timur. Islam di RI juga dinilai sebagai ancaman.
Pencopotan Prabowo selaku
Pangkostras juga disebabkan penyesatan informasi. Bermula dari laporan ke
Panglima TNI ttg adanya pasukan liar Pangkostrad Prabowo mengantisipasi gerakan
pasukan liar tsb dgn mengerahkan pasukan kostrad dlm rangka pengamanan, malah
jadi sasaran
Apalagi ketika hasil penyisiran gedung2
di sekitar Istana/Ring 1 ditemukan sejumlah besar senjata dan amunisi di Gedung
Humpus (Gambir). Kontan Prabowo dituduh sbg penimbun senjata dan amunisi dlm
jumlah besar yg ditemukan di lantai 3 Gedung Humpus tsb, Prabowo difitnah. Usaha
Prabowo menjelaskan bhw dirinya MUSTAHIL melakukan kudeta atau menggulingkan
presiden Habibie tdk diterima Presiden Habibie.
Jenderal-Jenderal Dalang Kerusuhan Mei 1998
Pembicaraan di rumah Fahmi Idris, tokoh senior Golkar adalah bukti paling kuat yang menghubungkan Benny Moerdani dengan berbagai kerusuhan massa yang sangat marak menjelang akhir Orde Baru.
Terbukanya niat Benny menjatuhkan Soeharto melalui gerakan massa yang berpotensi mengejar orang Cina dan orang Kristen. Kesaksian Salim Said ini merupakan titik tolak paling penting guna membongkar berbagai kerusuhan yang tidak terungkap seperti Peristiwa 27 Juli 1996 dan Kerusuhan 13-14 Mei 1998.
" Bersama Presiden Soeharto, Benny adalah Penasihat YPPI yang didirikan oleh para mantan tokoh demonstrasi 1966 dengan dukungan Ali Moertopo. Hadir di rumah Fahmi [Idris] pada malam itu para pemimpin demonstrasi 1966 seperti Cosmas Batubara, dr. Abdul Ghafur, Firdaus Wajdi, Suryadi [Ketua PDI yang menyerang Kubu Pro Mega tanggal 27 Juli 1996]; Sofjan Wanandi; Husni Thamrin dan sejumlah tokoh. Topik pembicaraan, situasi politik waktu itu...
Moerdani berbicara mengenai Soeharto yang menurut Menhankam itu, 'Sudah tua, bahkan sudah pikun, sehingga tidak bisa lagi mengambil keputusan yang baik. Karena itu sudah waktunya diganti'...Benny kemudian berbicara mengenai gerakan massa sebagai jalan untuk menurunkan Soeharto.
Firdaus Wajdi menanggapi, 'Kalau menggunakan massa, yang pertama dikejar adalah orang Cina dan kemudian kemudian gereja. ' " – (Salim Said, Dari Gestapu Ke Reformasi, serangkaian kesaksian, Penerbit Mizan, halaman 316)
(`Peristiwa 27 Juli 1996 Adalah Politik Dizalimi Paling Keji Sepanjang Sejarah Indonesia)
Selanjutnya bila kita hubungkan kesaksian Salim Said di atas dengan kesaksian RO Tambunan bahwa dua hari sebelum kejadian Megawati sudah mengetahui dari Benny akan terjadi serangan terhadap kantor PDI .
Catatan Rachmawati Soekarnoputri, Membongkar Hubungan Mega dan Orba sebagaimana dimuat Harian Rakyat Merdeka Rabu, 31 Juli 2002 dan Kamis, 1 Agustus 2002.
Maka kita menemukan bukti adanya persekongkolan antara Benny Moerdani yang sakit hati kepada Soeharto karena dicopot dari Pangab (kemudian menjadi menhankam, jabatan tanpa fungsi)
Sedangkan keterlibatan Megawati adalah untuk menaikan seseorang dari keluarga Soekarno
sebagai lawan tanding Soeharto. Kebetulan saat itu hanya Megawati yang mau jadi bekerja sama Benny Moerdani.
Dari Catatan Rachmawati Soekarnoputri ada kutipan seperti ini: " Sebelum mendekati Mega, kelompok Benny Moerdani mendekati saya [Rachmawati] terlebih dahulu. Mereka membujuk dan meminta saya tampil memimpin PDI. Permintaan orang dekat dan tangan kanan Soeharto itu jelas saya tolak. Bagi saya, PDI itu Cuma alat hegemoni Orde Baru yang dibentuk sendiri oleh Soeharto tahun 1973. Coba renungkan untuk apa jadi pemimpin boneka?
Orang-orang PDI yang dekat dengan Benny Moerdani, seperti Soerjadi dan Aberson Marie Sihaloho pun ikut mengajak saya gabung ke PDI. Tetapi tetap saya tolak ."
Dari ketiga catatan di atas kita menemukan nama-nama yang saling terkait dalam Peristiwa 27 Juli 1996, antara lain: Benny Moerdani; Megawati Soekarnoputri; Dr. Soerjadi; Sofjan Wanandi;
dan Aberson Marie Sihaloho, dan ini adalah "eureka moment" yang membongkar persekongkolan jahat karena Aberson Marie Sihaloho, adalah orang yang pertama kali menyebar pamflet untuk regenerasi kepemimpinan Indonesia dan di ganti Megawati, sehingga menimbulkan kecurigaan dari pihak Mabes ABRI.
Dr. Soerjadi adalah orang yang menggantikan Megawati sebagai Ketua Umum PDI di Kongres Medan (kongres dibiayai Sofjan Wanandi dari CSIS) yang mengumpulkan massa menyerbu kantor PDI dan selama ini dianggap perpanjangan tangan Soeharto ternyata agen ganda bawahan Benny Moerdani, dan tentu saja saat itu Agum Gumelar dan AM Hendropriyono, dua murid Benny Moerdani berada di sisi Megawati atas perintah Benny Moerdani sebagaimana disaksikan Jusuf Wanandi dari CSIS dalam Memoirnya, A Shades of Grey-Membuka Tabir Orde Baru.-
Semua fakta ini juga membuktikan bahwa dokumen yang ditemukan pasca ledakan di Tanah Tinggi tanggal 18 Januari 1998 yang mana menyebutkan rencana revolusi dari Benny Moerdani;
Megawati; CSIS dan Sofjan-Jusuf Wanandi yang membiayai gerakan PRD adalah dokumen asli dan otentik serta bukan dokumen buatan intelijen untuk mendiskriditkan PRD sebagaimana diklaim oleh Budiman Sejatmiko selama ini.
Ini menjelaskan mengapa Presiden Megawati menolak menyelidiki Peristiwa 27 Juli 1996 sekalipun harus mengeluarkan kalimat pahit kepada anak buahnya seperti "Siapa suruh kalian mau ikut saya?" dan justru memberi jabatan sangat tinggi kepada masing-masing SBY yang memimpin rapat penyerbuan Operasi Naga Merah; Sutiyoso yang komando lapangan penyerbuan Operasi Naga Merah; Agum Gumelar dan Hendropriyono yang pura-pura
melawan koleganya. Megawati melakukan bunuh diri bila menyelidiki kejahatannya sendiri!
Kerusuhan Mei 1998, Gerakan Benny Moerdani Menggulung Soeharto; Prabowo; dan Menaikan Megawati Soekarnoputri ke Kursi Presiden. Pernahkah anda mendengar kisah Kapten Prabowo melawan usaha kelompok Benny Moerdani dan CSIS mendeislamisasi Indonesia? Ini fakta dan bukan bualan. Banyak buku sejarah yang sudah membahas hal ini, dan salah satunya cerita dari Kopassus di masa Benny meenjadi Panglima.
Saat Benny menginspeksi ruang kerja perwira bawahan dia melihat sajadah di kursi dan bertanya "Apa ini?", jawab sang perwira, "Sajadah untuk shalat, Komandan." Benny membentak "TNI tidak mengenal ini." Benny juga sering mengadakan rapat staf pada saat menjelang ibadah Jumat, sehingga menyulitkan perwira yang mau sholat Jumat.
Hartono Mardjono sebagaimana dikutip Republika tanggal 3 Januari 1997 mengatakan bahwa rekrutan perwira Kopassus sangat diskriminatif terhadap yang beragama Islam, misalnya
kalau direkrut 20 orang, 18 di antaranya adalah perwira beragama non Islam dan dua dari Islam.
Penelitian Salim Said juga menemukan hal yang sama bahwa para perwira yang menonjol keislamannya, misalnya mengirim anak ke pesantren kilat pada masa libur atau sering menghadiri pengajian diperlakukan diskriminatif dan tidak akan mendapat kesempatan
sekolah karena sang perwira dianggap fanatik, sehingga sejak saat itu karir militernya suram.
Silakan perhatikan siapa para perwira tinggi beken yang diangkat dan menduduki pos penting pada masa Benny Moerdani menjadi Pangad atau Menhankam seperti Sintong Panjaitan; Try Sutrisno; Wiranto; Rudolf Warouw; Albert Paruntu; AM Hendropriyono; Agum Gumelar; Sutiyoso; Susilo Bambang Yudhoyono; Luhut Panjaitan; Ryamizard Ryacudu; Johny Lumintang; Albert Inkiriwang; Herman Mantiri; Adolf Rajagukguk; Theo Syafei dan lain sebagainya akan terlihat sebuah pola tidak terbantahkan bahwa perwira yang diangkat pada masa Benny Moerdani berkuasa adalah non Islam atau Islam abangan (yang tidak dianggap "fanatik" atau berada dalam golongan "islam santri" menurut versi Benny).
Mengapa Benny Moerdani dan CSIS mau mendeislamisasi Indonesia? Karena CSIS didirikan oleh agen CIA, Pater Beek yang awalnya ditempatkan di Indonesia untuk melawan komunis, namun setelah komunis kalah dia membuat analisa bahwa lawan Amerika berikutnya di Indonesia hanya dua, "Hijau ABRI" dan "Hijau Islam".
Lalu, Peter Beek menyimpulkan ABRI bisa dimanfaatkan untuk melawan Islam, maka berdirilah CSIS yang dioperasikan oleh anak didiknya di Kasebul, Sofjan Wanandi, Jusuf Wanandi, Harry Tjan Silalahi, mewakili ABRI: Ali Moertopo, dan Hoemardani (baca kesaksian George Junus Aditjondro, murid Pater Beek).
Pater Beek yang awalnya ditempatkan di Indonesia untuk melawan komunis namun setelah komunis kalah dia membuat analisa bahwa lawan Amerika berikutnya di Indonesia hanya dua, "Hijau ABRI" dan "Hijau Islam"
Apa benar Wiranto anak buah Benny Moerdani? Benar sekali, bahkan Salim Said dan Jusuf Wanandi mencatat bahwa Wiranto menghadap Benny Moerdani beberapa saat setelah dilantik sebagai KSAD pada Juni 1997. Saat itu Benny memberi pesan sebagai berikut: " Jadi, kau harus tetap di situ sebab kau satu-satunya orang kita di situ. Jangan berbuat salah dan jangan dekat dengan saya sebab kau akan dihabisi Soeharto jika dia tahu. " (Salim Said, halaman 320)
Tentu saja Wiranto membantah dia memiliki hubungan dekat dengan Benny Moerdani namun kita memiliki cara membuktikan kebohongannya. Pertama, dalam Memoirnya, Jusuf Wanandi
menceritakan bahwa pasca jatuhnya Soeharto, Wiranto menerima dari Benny Moerdani daftar nama beberapa perwira yang dinilai sebagai "ABRI Hijau", dan dalam sebulan semua orang dalam daftar nama tersebut sudah disingkirkan Wiranto. Ketika dikonfrontir mengenai hal ini Wiranto mengatakan cerita "daftar nama" adalah bohong.
Namun bila kita melihat catatan penting masa setelah Soeharto jatuh maka kita bisa melihat bahwa memang terjadi banyak perwira "hijau" di masa Wiranto yang waktu itu dimutasi dan hal ini sempat menuai protes. Fakta bahwa Wiranto adalah satu-satunya orang Benny Moerdani
yang masih tersisa di sekitar Soeharto menjawab sekali untuk selamanya mengapa Wiranto menjatuhkan semua kesalahan terkait Operasi Setan Gundul kepada Prabowo; mengatakan kepada BJ Habibie bahwa Prabowo mau melakukan kudeta sehingga Prabowo dicopot; dan menceritakan kepada mertua Prabowo, Soeharto bahwa Prabowo dan BJ Habibie bekerja sama menjatuhkan Soeharto, sehingga Prabowo diusir dan dipaksa bercerai dengan Titiek Soeharto.
Hal ini sebab Wiranto adalah eksekutor dari rencana Benny Moerdani menjatuhkan karir dan
menistakan Prabowo. Membicarakan "kebejatan" Prabowo tentu tidak lengkap tanpa mengungkit Kerusuhan Mei 1998 yang ditudingkan pada dirinya padahal saat itu jelas-jelas Wiranto sebagai Panglima ABRI pergi ke Malang membawa semua kepala staf angkatan darat, laut dan udara serta menolak permintaan Prabowo untuk mengerahkan pasukan demi mengusir perusuh.
Berdasarkan temuan fakta di atas bahwa Benny Moerdani mau menjatuhkan Soeharto melalui kerusuhan rasial dan Wiranto adalah satu-satunya orang Benny di lingkar dalam Soeharto maka
sangat patut diduga Wiranto memang sengaja melarang pasukan keluar dari barak menghalangi kerusuhan sampai mariner berinisiatif keluar kandang.
Selain itu tiga fakta yang menguatkan kesimpulan kelompok Benny Moerdani ada di belakang Kerusuhan Mei 98 adalah sebagai berikut:
1. Menjatuhkan lawan menggunakan "gerakan massa" adalah keahlian Ali Moertopo (guru Benny Moerdani) dan CSIS sejak Peristiwa Malari di mana malari meletus karena provokasi Hariman Siregar, binaan Ali Moertopo (lihat kesaksian Jenderal Soemitro yang dicatat oleh Heru Cahyono dalam buku (Pangkopkamtib Jenderal Soemitro dan Peristiwa 15 Januari 74 terbitan SinarHarapan).
2. Menurut catatan TGPF Kerusuhan Mei 98 penggerak lapangan adalah orang berkarakter militer dan sangat cekatan dalam memprovokasi warga menjarah dan membakar. Ini jelas ciri-ciri orang yang terlatih sebagai intelijen, dan baik Wiranto maupun Prabowo adalah perwira lapangan tipe komando bukan tipe intelijen, dan saat itu hanya Benny Moerdani yang memiliki kemampuan menggerakan kerusuhan skala besar karena dia mewarisi taktik dan jaringan yang dibangun Ali Moertopo (mengenai jaringan yang dibangun Ali Moertopo bisa dibaca di buku(Rahasia-Rahasia Ali Moertopo terbitan Tempo-Gramedia).
Lagipula saat kejadian terbukti Benny Moerdani sedang rapat di Bogor dan ada laporan intelijen bahwa orang lapangan saat kerusuhan 27 Juli 1996 dan Mei 98 dilatih di Bogor!
3. Alasan Megawati setuju menjadi alat Benny Moerdani padahal saat itu keluarga Soekarno sudah sepakat tidak terjun ke politik dan alasan Benny Moerdani begitu menyayangi Megawati
mungkin adalah karena mereka sebenarnya pernah menjadi calon suami istri dan Soekarno sendiri pernah melamar Benny, pahlawan Palangan Irian Jaya itu untuk Megawati, namun kemudian Benny memilih Hartini wanita yang menjadi istrinya sampai Benny meninggal (Salim Said, halaman 329). Berdasarkan semua fakta dan uraian di atas maka kiranya sudah tidak bisa dibantah bahwa alasan Kelompok Benny Moerdani, dalang Peristiwa 27 Juli 1996 dan Kerusuhan Mei 1998.
hmmmmhh....buat tambah pengetahuan aja
BalasHapus